Idul adha
Khutbah Jumat
A
Ali
30 April 2026
5 menit baca
0 views
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِ...
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini, udara terasa berbeda. Ada getaran yang menggugah jiwa, menyentuh relung hati yang terdalam. Kita berada di ambang pintu hari raya Idul Adha, sebuah momen yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, namun bagi yang merenung, ia menyimpan kesedihan yang tak terperi, sebuah peringatan yang begitu pedih bagi jiwa yang lalai. Idul Adha, bukan sekadar gema takbir yang mengangkasa, bukan pula riuhnya perayaan semata. Di baliknya, tersembunyi kisah pengorbanan agung yang menguji keimanan, sebuah ibrah yang seharusnya mengalirkan air mata penyesalan di pipi kita.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Tidak ada hari yang amalan pada hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah), maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid." (HR. Ahmad). Dengarkanlah seruan ini, wahai Saudaraku. Di saat dunia larut dalam kegembiraan yang fana, Allah memerintahkan kita untuk tenggelam dalam zikir, merenungi kebesaran-Nya, merangkak kembali menuju keharibaan-Nya. Namun, berapa banyak di antara kita yang benar-benar merasakan getaran zikir ini dalam hati? Berapa banyak yang meresapi makna takbir, bukan sekadar suara yang meninggi?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ingatlah kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam, kekasih Allah. Ketika Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya yang paling dicintai, Ismail Alaihissalam, apakah ia ragu? Tidak. Ia menundukkan kepalanya, anak tercinta di pangkuannya, dan pisau telah terasah. Di saat itulah, Allah memanggilnya, menguji keikhlasannya hingga ke titik nadir. Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Maka tatkala anak itu sampai pada usia giat bekerja, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ismail menjawab: 'Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102). Ya Allah, betapa beratnya ujian ini! Betapa luhurnya kesabaran mereka! Dan kita, di hari yang sama, diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka. Apakah kita telah siap mengorbankan kesenangan duniawi kita demi ridha Allah? Apakah kita siap meninggalkan dosa-dosa yang telah melekat seperti belenggu?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kisah pengorbanan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan. Ia adalah cerminan pengorbanan yang tiada henti yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Pengorbanan waktu demi ibadah, pengorbanan harta demi fakir miskin, pengorbanan ego demi persaudaraan, dan yang terpenting, pengorbanan hawa nafsu yang terus membisikkan keburukan. Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang dapat mencapainya ialah ketakwaanmu dari kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap petunjuk-Nya yang Dia berikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37). Renungkanlah ayat ini dalam-dalam. Kurban yang kita lakukan, menyembelih hewan, bukanlah tujuan utama. Yang Allah lihat adalah ketakwaan kita, sejauh mana kita mampu mengendalikan diri, sejauh mana kita rela berkorban demi Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Lihatlah sekeliling kita. Betapa banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Betapa banyak jeritan kesedihan yang terabaikan. Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk menyatukan hati, menghapus jarak, dan menebarkan kasih sayang. Apakah dengan daging kurban yang terbagi-bagi, hati kita juga ikut terbagi? Atau justru malah menambah jurang kesenjangan? Ingatlah, di setiap tetes darah hewan kurban yang mengalir, ada harapan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan di setiap kebaikan yang kita sebarkan, ada jaminan rahmat dari-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Sungguh umatku akan terus dalam kebaikan selama mereka saling menyayangi, menunaikan amanah, dan ada kejujuran..." (Hadits ini maknanya luas, mengacu pada pentingnya persatuan dan amal shaleh). Sungguh, betapa lemahnya kita jika tanpa rahmat-Nya. Betapa hina diri ini jika tak ada cinta sesama.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Suatu saat, saat ia merenung di malam hari, menangis ia teringat akan dosa-dosanya yang bertumpuk. Ia memandang langit yang gelap, mencari bintang sebagai saksi pertaubatannya. "Ya Allah," bisiknya pilu, "betapa banyak nikmat yang Engkau curahkan, namun betapa sedikit syukurku. Betapa besar murka-Mu yang layak kuterima, namun betapa sabar Engkau menanti. Aku datang dengan tangan hampa, dengan hati penuh noda, memohon ampunan-Mu sebelum ajal menjemput." Adakah di antara kita yang merasakan kepedihan ini? Yang merasakan betapa mengerikannya pertemuan dengan Allah dalam keadaan penuh dosa?
Tatkala ajal tiba, tak ada kekayaan yang bisa menolong, tak ada kedudukan yang bisa membela. Hanya amal shaleh dan rahmat Allah yang menjadi bekal. Sebagaimana firman-Nya: "Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, karena yang akan datang kepada Allah ialah hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89). Hati yang bersih dari syirik, hati yang tulus dalam beribadah, hati yang penuh dengan cinta kepada Sang Pencipta. Marilah kita renungkan, wahai saudaraku, apakah hati kita kini telah bersih? Atau masih terkotori oleh keserakahan, iri dengki, dan keangkuhan?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari raya ini adalah panggilan untuk kembali. Kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah kita. Dengan air mata yang mengalir, dengan hati yang bergetar, datanglah kepada-Nya. Mohon ampunan-Nya atas segala kelalaian, mohon rahmat-Nya atas segala kekurangan. Jangan biarkan Idul Adha berlalu tanpa makna. Jadikan ia batu loncatan untuk memperbaiki diri, untuk lebih dekat kepada-Nya, untuk meraih surga-Nya yang dijanjikan. Allah Al-Ghaffar, Maha Pengampun. Ar-Rahman, Maha Pengasih. Ia senantiasa membuka pintu taubat bagi siapa saja yang mau kembali.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.